No icon

Kick Out Racism

Sepakbola Modern adalah Sepakbola Tanpa Aksi Intoleransi

Permasalahan Racism atau Rasis belum sepenuhnya hilang dari Sepakbola, bahkan Liga Eropa sekalipun kerap bersinggungan dengan skandal ini. FIFA selaku otoritas tertinggi yang mengatur sepakbola Dunia mestinya punya terobosan-terobosan terbaru untuk memecahkan permasalahan klasik tentang Rasis.

Rasis adalah sebuah tindakan yang menyatakan salah satu orang atau pihak tertentu lebih unggul dibandingkan pihak lain. Rasis dapat ditujukan kepada pihak tertentu akibat adanya perbedaan warna kulit, bahasa, adat istiadat, kepercayaan, tempat kelahiran dan faktor biologis seseorang.

Tindakan Rasis sudah terjadi jauh sebelum sepakbola itu sendiri ada. Pada zaman dahulu, sekitar 500-1000 tahun yang lalu, tindakan rasis ditujukan untuk menonjolkan kekuatan dan membedakan antara barat dan non barat (timur).

DIdalam sepakbola, insiden rasis pertama kali terjadi pada periode 1880-1845. Kejadian pertama menimpa Andrew Watson, pesepakbola asal Skotlandia yang berkulit gelap. Kejadian berikutnya muncul pada tahun 1908 dan menimpa salah satu pemain berbakat pada zaman itu, Walter Tull.  Ketika bertanding melawan Bristol City, sebagian penonton membuat aksi kurang terpuji dengan menyebut Walter Tull lebih rendah dari Billingsgate.

Salah satu kasus rasis yang paling menghebohkan di saat sepakbola mulai digemari banyak orang adalah kasus yang dialami oleh legenda Everton Dixie Dean. Pada saat itu Dean sering disebut dengan Dixie dikarenakan kulitnya yang gelap dan rambut hitam keriting. Dean pernah berseteru dengan supporter pada sebuah pertandingan di Tahun 1938. Pada saat itu Dean disebut bajingan hitam. Mendengar ucapan tersebut, Dean tersulut emosi dan terjadilah kontak fisik.

Di era sepakbola modern, Indonesia juga pernah terkena kasus rasis. Kejadian ini terjadi ketika Indonesia sedang melangsungkan ujicoba dengan Timnas Filipina. Filiina yang pada saat itu mulai banyak menggunakan pemain naturalisasi didalam skuadnya mendapatkan sorakan dari beberapa fans Tim Nasional Indonesia dengan sebutan “Hindi kayo Pilipino!” yang berarti Anda bukan Filipina. Beruntung pada saat itu Indonesia terlepas dari sanksi berat FIFA yang dilakukan segelintir supporter.

Pada tahun 2006, Seep Blater selaku Presiden FIFA saat itu sudah mengeluarkan kebijakan sanksi tegas pada pelaku Rasis. Hukuman yang disiapkan mulai dari Match Suspension hingga hukuman Diskualifikasi.

Kasus rasis juga banyak terjadi di Eropa yang secara notaben secara strata pendidikan dan kualitas sepakbola mereka jauh lebih maju dibandingkan didaerah berkembang.

Beberapa kasus rasis yang terjadi di Eropa antara lain seperti yang menimpa Samuel Eto’o ketika melawan Real Zaragoza dalam lanjutan La Liga. Akibat insiden rasis tersebut, Zaragoza dikenakan denda £6.000 oleh Federasi sepakbola Spanyol.

Masih dari Spanyol, Bek kanan Barcelona Dani Alves pernah dilempari pisang oleh segelintir pendukung Villareal ketika akan melakukan tendangan sudut. Akibat kejadian itu, Villareal terpaksa harus menerima hukuman denda sebesar $15.000 dari Federasi Sepakbola Spanyol.

Lagi-lagi masih dari Spanyol, Luis Aragones yang pada saat itu sebagai juru taktik Spanyol melakukan tindakan tidak terpuji. Bermaksud hati ingin memberikan motivasi kepada anak asuhnya untuk berusaha mematikan pergerakan Thierry Henry malah berujung blunder.

“Demuestra que eres major que ese negro de mierda,” yang jika diterjemahkan kedalam bahasa inggris, Ucapan Aragones akan berartiShow That you’re better than that black shit

 Di tanah kelahiran Ratu Elisabeth, kejadian rasis pernah terjadi di era sepakbola modern. Pada 2011 Luiz Suarez dan Patrick Evra terlibat dalam konflik rasis ketika Manchester United bertandang ke Anfield untuk bertemu Liverpool. Pada kesempatan tersebut, Suarez menyebut Evra dengan kata negrito. Akibat ucapan tersebut, Suarez harus membayar denda sebesar £40.000 dan mendapatkan larangan bermain selama 8 pertandingan.

Menyikapi polemik mengenai kasus ini, FIFA agaknya mulai sedikit gerah. Melalui Sekretaris Jenderal FIFA, Fatma Samoura mengatakan FIFA akan secara tegas menindak setiap tindakan intoleran yang terjadi dalam sepakbola.

“FIFA tidak akan metoleransi sikap diskriminasi yang dilakukan didalam pertandingan. Piala Dunia Rusia 2018 dan Qatar 2022 akan menjadi ajang Piala Dunia dimana sikap Intoleran dan kefanatikan tidak akan mendapat toleransi,” Ujar Samoura

Salah satu terobosan yang FIFA keluarkan adalah sistem pemantauan anti-diskriminasi pada pertandingan dengan meluncurkan program “Good Practice Guide”.

Di Indonesia sendiri sikap peduli akan bahaya rasis masih kurang dipahami. Jika ingin merujuk ke sepakbola modern yang berujung kepada sepakbola Industri tentu hal ini harus menjadi salah satu fokus utama perbaikan yang dilakukan PSSI. Mengingat akibat sikap rasis ini sering terjadi kerugian yang luar biasa, seperti aksi tidak sportif di lapangan, hingga terjadinya bentrokan antara basis suppoerter yang merusak fasilitas olahraga umum hanya akibat saling ejek dengan kata-kata rasis.

Sudah saatnya PSSI menindak tegas pelaku rasis dengan efek jera yang keras seperti denda besar seperti yang dilakukan oleh Federasi Sepakbola Spanyol dan Inggris hingga larangan ke stadion bagi yang sudah melewati batas fair play.

 

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: