No icon

Rekam Jejak Bayi Ajaib di Premier League

OLEH: M. RIFQI F.

Julukan "Bayi Ajaib" pernah disematkan pada klub Persikota Tanggerang oleh pengamat sepak bola lokal. Julukan ini diberikan atas prestasi tim asal Kota Tanggerang tersebut yang meraih gelar Divisi I Liga Indonesia di tahun 1996/1997 tepat semusim setelah mereka merajai Divisi II Liga Indonesia musim 1995/1996. Julukan “bayi ajaib” atau “wonderboy/wonderkid” diberikan pada Persikota karena prestasinya sebagai ‘klub baru’ melampaui prestasi klub-klub lainnya yang sudah bermusim-musim malang melintang di kancah yang sama.

Liga Primer Inggris (English Premier League/EPL), salah satu liga paling kompetitif di dunia juga memiliki 'bayi-bayi ajaib'. Klub-klub ini juga membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk meraih gelar top domestik setelah mereka promosi dari kasta kedua. Sebagai salah satu liga paling kompetitif di dunia, gelar juara liga di Inggris setiap musimnya selalu jadi perebutan bukan hanya bagi segelintir klub papan atas, namun juga terbuka bagi klub-klub kasta menengah hingga sesekali, kasta bawah.

Contoh termutakhir, juga terpopuler adalah Leicester City yang baru saja meraih gelar liga utama pertama selama 132 tahun. Musim 2013/2014 mereka merajai Championship dan merangsek ke EPL di bawah Nigel Pearson, musim 2014/2015 terengah-engah menghindari jurang degradasi di bawah Claudio Ranieri kemudian terbang tinggi dan menggapai gelar juara pada musim 2015/2016. Ini artinya The Blues hanya perlu 2 musim untuk menjuarai liga kasta pertama sejak mereka promosi dari kasta kedua.

Namun apakah prestasi Leicester City adalah prestasi paling 'wah' di antara tim-tim semenjana? Tentu saja tidak. Beberapa klub bahkan hanya butuh semusim untuk beradaptasi dan menjuarai liga utama.  Klub-klub tersebut adalah Liverpool pada 1906, Everton tahun 1932, Tottenham Hotspur tahun 1951 dan Ipswich Town pada tahun 1962 kemudian Nottingham Forest pada tahun 1978.

Namun ada yang unik dari raihan Nottingham Forest. Di antara klub-klub yang berhasil menjuarai liga kasta tertinggi tepat setelah promosi, Nottingham Forest adalah satu-satunya klub yang tidak menjuarai kasta kedua musim sebelumnya. Waktu itu The Tricky Tree finis di peringkat ke-3 di Second Division musim 1976/1977 sebelum menduduki peringkat pertama First Division musim 1977/1978.

Notthingham Forrest saat menjuarai Eropa (Sumber Gambar: 90min)

Selain itu, ada hal yang lebih unik dari prestasi Nottingham Forest yang waktu itu ditangani manajer legendaris Brian Clough itu. Keunikan yang hingga kini belum pernah disamai klub manapun adalah mereka langsung menjuarai European Cups dua musim setelahnya. Ya, mereka merajai Eropa dua musim berturut-turut! Ini artinya mereka membutuhkan jumlah musim yang sama untuk mengangkangi klub-klub besar Eropa dengan jumlah musim yang dibutuhkan Leicester City untuk menduduki klub-klub besar Premier League. Selain itu artinya mereka memiliki trofi kompetisi tertinggi Eropa lebih banyak daripada Chelsea dan Arsenal.

Kini, apa resepnya sehingga Nottingham Forest bisa meraih prestasi yang begitu ajaib? Sebenarnya ada kemiripan antara skuat Nottingham Forest musim 1977/1978 dengan skuat Leicester City musim 2015/2016. Seperti yang dituturkan Garry Birtles, komposisi skuat Leicester City mengingatkan ia pada kolega-koleganya yang menjuarai First Division dan European Cups masa itu.

Pertama adalah komposisi pemain bertahan. Waktu itu area pertahanan Nottingham Forest dijaga oleh Peter Shilton, salah satu kiper terbaik dalam sejarah persepakbolaan Inggris, dan duo bek tanpa kompromi Kenny Burns dan Larry Lloyd. Kini Leicester diperkuat Kasper Schmeicel, Wes Morgan dan Robert Huth. Mereka berempat adalah bek-bek veteran di liga masing-masing. Di sektor gelandang Leicester City punya N’Golo Kante sebagai gelandang underrated dan Nottingham Forest memiliki Archie Gemmill. Kemudian jika Leicester City punya juru selamat di kaki Riyad Mahrez, Nottingham Forest memiliki John Robertson, yang disebut-sebut sebagai “George Best baru”. Kemudian uniknya lagi ujung tombak masing-masing klub diperkuat seorang mantan pemain non-liga. Tentu kita tahu, Jamie Vardy untuk Leicester pernah bermain untuk Stocksbridge Park Steels dan bekerja di sebuah pabrik serat karbon. Ternyata kisah serupa juga terjadi pada Garry Birtles, di mana ia pernah bermain untuk Long Eaton United sambil bekerja memasang keramik bersama ayahnya.

Oke, pendukung Leicester boleh berargumen bahwa prestasi mereka lebih wah karena mereka berhadapan dengan klub-klub yang membeli pemain bintang seperti anak sekolah membeli gorengan (atau kondom). Namun apakah sisi biru dari East Midlands dapat menduplikasi raihan East Midlands sisi merah? Memperhitungkan posisi Leicester City yang masih bertahan di Champions League, secara matematis ini bukan hal yang mustahil bagi mereka.

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: