No icon

Sport Technology

Mengintip Inovasi Sport Technology yang Ada di Indonesia

Penerapan teknologi sebagai alat bantu untuk meningkatkan performa athlete dalam bidang olahraga sudah lazim diterapkan saat ini. Teknologi sendiri seolah menjadi sebuah barang yang flexible yang dapat di “embed” kedalam aktifitas olahraga konvensional. Sebagai gambaran, jika dahulu untuk menyembuhkan keram otot pada athlete membutuhkan masa pemulihan hingga 2-3 hari, kini dengan penambahan sentuhan teknologi dalam alat terapi kesehatan, keram otot dapat disembuhkan kurang dari satu hari. Pengaplikasian teknologi didunia olahraga sebagian besar didominasi oleh penggunaan pada olahraga sepakbola. Beberapa pemain besar didalamnya antara lain Catapult, Nike Bra, Gsport Tech, Instat dan beberapa vendor besar lainnya.   

Paradigma tentang sport technology atau mungkin lebih familiar dengan sebutan sport engineer atau science ternyata sudah sangat berkembang diluar negeri. Adanya vendor-vendor tersebut menarik minat banyak klub untuk menggunakannya. Sebut saja, Real Madrid, Manchester United, Dortmund dan AC Milan. Sedari muda, pemain-pemain binaan mereka sudah ditempa dengan pendekatan science. Hal ini berguna untuk memonitor perkembangan setiap pemain secara rinci sehingga dapat memastikan pemain tersebut selalu berada di peak performance, tentunya dengan latihan yang sesuai dengan kondisi tubuh pemain untuk menghindari pemain tersebut over training yang dapat berakibat kepada cidera si pemain. Terkhusus untuk AC Milan, bahkan sampai membuatkan sebuah laboratorium sport science yang mereka beri nama Milan Lab. 

Bukan hanya klub, beberapa pemain bintang dunia juga sangat terbantu dengan adanya teknologi ini. Cristiano Ronaldo rela merogoh kocek cukup dalam untuk membeli alat cyrotheraphy yang digunakan oleh sang pemain untuk melakukan recovery kondisi pisik nya. Bukan tidak mungkin, metode terapi modern tersebut memberikan andil yang cukup besar sehingga Ronaldo masih berada di top perform walau saat ini sudah menginjak umur diatas 30 tahun. 

Di Indonesia sendiri, istilah sport science sudah sejak lama dibicarakan. Salah satu Pembina sepak bola yang sering menyebut Sport Science adalah mantan Ketua PSSI Djohar Arifin Husein. Pada beberapa kali kesempatan Djohar sering menyebut Sport Science sebagai salah satu dari lima pilar pengembangan sepak bola PSSI dimasanya. 

Sport Science secara definisi dapat diartikan sebagai sebuah bidang ilmu olahraga yang menerapkan  pendekatan secara teknik dan science kedalam olahraga. Hal ini bertujuan untuk meningkatan performa athlete. Sport Science mencakup berbagai aspek didalamnya, seperti Ilmu Kepelatihan, Kedokteran, Fisiologi, Psikologi, Gizi, Sport Technology, Performance Analysist, Kinesiology dan beberapa bidang ilmu lainnya.  

Sedikit beranjak dari Eropa ke Asia. Korea dan Jepang adalah salah dua contoh dari beberapa negara yang memanfaatkan pengaplikasian teknologi didalam pendidikan sepakbola mereka. Kini 2 negara ini menjadi raksasa sepakbola di Asia. Bagaimana dengan Asia Tenggara? Masih belum banyak informasi valid yang dapat diperoleh mengenai perkembangannya. Penerapan sport science dapat dikatakan tidak berkembang di Indonesia. Salah satu disebabkan belum terbukanya mindset pengelola klub bahkan pelatih klub sendiri bahwa pengaplikasi teknologi didalam sepakbola dapat menjadi shortcut untuk mengoptimalkan pengelolaan klub (aspek teknis) sehingga dapat mendongkrak prestasi sebuah klub. Tentunya tidak dengan instant. Belum lagi polemik mengenai harga  yang harus dibayarkan. Untuk menggandeng pabrikan dunia seperti Catapult saja, Klub bisa menghabiskan hingga 500 juta untuk menggunakan layanan mereka dengan sistem sewa. Dan tentunya, tidak ada jaminan sukses dalam waktu singkat untuk itu.

Salah satu contoh pengaplikasian Sport Science yang masih segar di ingatan masyrakat Sepakbola Indonesia adalah ketika Tim Nasional U-19 asuhan Indra Sjafri meraih gelar juara piala AFF U-19. Dalam setiap pertandingan, para pemain Tim Nasional U-19 seolah-olah tidak pernah lelah untuk berlari. Mereka selalu berada disegala posisi lapangan untuk mengawal pemain lawan. Bahkan Korea Selatan yang dikenal memiliki kelebihan dari segi fisik, dapat mereka imbangi dan bahkan mereka kalahkan waktu itu.

Beberapa orang yang terlibat didalam kesuksesan Tim Nasional U-19 kala itu, antara lain Nur Saelan, Alfan Nur, Adit dan Rudy Eka. Nur Saelan berperan sebagai Pelatih Fisik kala itu. Sedangkan untuk Dokter Tim Nasional dipegang oleh Alfan Nur dan Adit sebgai physiotherapist. Rudy Eka berperan sebagai match analyst dan statistic Tim Nasional untuk melakukan evaluasi dan mengukur kekuatan lawan. Bagaimana dengan Indra Sjafri? Indra Sjafri membuat formulasi strategi berdasarkan inputan dari tim yang dia bentuk dan menyiapkan program latihan yang tepat berdasarkan kondisi fisik pemainnya. 

Related Post
Cryotheraphy dan HydroWorx, Recovery Treatment Yang Banyak Diaplikasikan Klub dan Pemain Top Eropa
 


Apakah hal ini sesuatu yang luar biasa? Tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Untuk Sepakbola Eropa hal ini sangatlah biasa, akan tetapi untuk kultur sepakbola negara berkembang seperti Indonesia ini jelas sebuah hal luar biasa dengan pendekatan berbeda yang berani ditonjolkan Indra Sjafri.  

Dalam menu latihan klub-klub Eropa, inovasi menu latihan dengan penerapan teknologi sudah sering kita lihat. Dortmund secara terbuka memperlihatkan bagaimana tempat latihan khusus yang mereka punya, dipersiapkan meningkatkan keakurasian den power pemain mereka. Sedangkan itu, Atletico Madrid memanfaatkan produk milik Google Glass untuk mengamati kondisi fisik pemain mereka dan pemain lawan serta mengumpulkan data-data penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh tim pelatih. Bahkan Jerman, sampai menggandeng SAP untuk menerapkan Statistik dan Machine Learning untuk menemani mereka selama gelaran Piala Dunia 2014. Hasiilnya? Mereka berhasil meraih Juara Piala Dunia. 

Sentuhan sport science sebagusnya diberikan sedini mungkin. Ketika pemain masih berada di usia muda (grassroot) sehingga pertumbuhan sang anak dapat ideal. Salah satu polemiknya, kembali lagi kepada dana yang dibutuhkan. Jika masih terlena dan kembali terlambat mempersiapkannya, jangankan untuk mengejar, yang ada Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara lain. 

Selain Indra Sjafri, salah satu pelatih lokal lainnya yang concern akan hal ini adalah Nil Maizar. Kala itu Nil Maizar yang baru saja kembali dari German mengikuti training kepelatihan terkesima melihat terstrukturnya sistem pendidikan dan kepelatihan sepakbola di negara tersebut. Seolah kembali teringat akan masa mudanya ketika ditempa di Eropa, Nil bertekad untuk mencoba membawa hal tersebut di Indonesia.

Pada saat itu, salah satu mitra yang digandeng oleh Nil Maizar adalah Lentera Sport Management. Secara bertahap Nil dan Lentera Sport mencoba menelaah dan mevalidasi metode teknologi apa yang tepat untuk diterapkan dan sesuai dengan sepakbola Indonesia. Setelah lebih dari 6 bulan melakukan kajian ilmiah inovasi apa yang cocok dengan kultur sepak bola Indonesia, akhirnya Nil Maizar memberanikan diri untuk mengaplikasikannya pada klub yang dilatihnya saat itu, Semen Padang FC. Pada kala itu, Semen Padang FC melalui Nil Maizar secara tidak langsung mencoba menerapkan sport science kedalamnya. Beberapa layanan inovasi yang sudah diterapkan antara lain Match Statistics, Match Analyst, Scouting Record, Nutrient Monitor, dan Physic Medical Record.

Pengaplikasian teknologi ini dilakukan selama Semen Padang FC mengikuti gelaran turnamen Torabika Soccer Championship 2016 dan Turnamen Piala Presiden 2017. Walaupun kerjasama tersebut baru terlaksana hingga gelaran Piala Presiden 2017 selesai dilaksanakan, Nil Maizar dan Lentera Sport terus berkomitmen bersama untuk
mengembangkannya agar dapat menyajikan solusi yang tepat untuk kemajuan sepakbola Indonesia.

Dari tempat terpisah, awak media 12Pas berhasil menemui perwakilan Lentera Sport untuk meminta informasi lebih detail mengenai hal tersebut. Haris Tamsin, Chief Technology Lentera Sport mengatakan bahwa saat ini dia dan tim sedang berusaha menyajikan layanan inovasi teknologi di bidang sepak bola. Haris Tamsin mengakui bahwa tim yang dia bentuk bersama rekan-rekannya sudah menerapkannya di Semen Padang FC untuk beberapa gelaran turnamen.

“Lentera Sport Management awalnya dibentuk sebagai kesiapan kita untuk mendukung perkembangan sepakbola di Indonesia. Beberapa layanan yang sudah kita aplikasikan seperti Match Statistics, Match Analyst, Scouting Record, Nutrient Monitor dan Physic Medical Record,” Ujar Haris kepada awak media 12pas. 

“Saat ini kami di Lentera juga sedang mengembangkan teknologi wearable device yang ditujukan untuk dapat memonitor kondisi fisik athlete yang sedang berlatih. Berdasarkan hasil kajian kami bersama Coach Nil, data-data tersebut sangat dibutuhkan tim pelatih untuk mengetahui sejauh mana kondisi fisik pemain sehingga tim pelatih dapat dengan presisi memberikan menu latihan berdasarkan kondisi pemain. Saat ini pemberian menu latihan masih berdasarkan secara general kondisi fisik pemain. Hal ini jelas dapat mengakibatkan kemungkinan cidera tambahan sewaktu berlatih,” Ujar Haris menambahkan 

Lentera Sport Management saat ini memiliki beberapa divisi pengembangan, antara lain Divisi Pengembangan Teknologi yang dipegang langsung oleh Haris Tamsin, kemudian Divisi Pengembangan human resource and statistics dipegang oleh Aulia Ade Putra dengan Ersab dan Divisi Evaluation and Analyst dipegang oleh Ashiddiq Adha. 

Mengenai harga pengimplementasian teknologi yang saat ini sudah mereka kembangkan, Haris mengelak untuk memberikan berapa besaran biaya yang harus mereka terima. Haris lebih berfokus kepada pengaplikasian teknologi ini diberbagai banyak academy sepakbola dan klub-klub sepakbola. 

“Bagi kami masalah biaya urusan kesekian, bagaimana sepakbola Indonesia bisa lebih maju menjadi perhatian utama kami,” Ujar Haris Tamsin yang diamini oleh Aulia Ade dan Ashiddiq Adha ketika dijumpai di Padang.

Masih menurut Haris, saat ini tim Lentara Sport sedang menjajaki beberapa kemungkinan kerjasama pengaplikasian teknologi di klub-klub sepakbola. Salah satunya tawaran kerjasama datang dari klub sepak bola di Malaysia. Ketika di konfirmasi mengenai kerjasama ini, Haris menyebut bahwa kolaborasi yang dilakukan lebih kepada edukasi dan transfer knowledge di bidang sport science.  

Haris juga tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan klub Liga Indonesia lainnya dikemudian hari. 

“Jelas tujuan utama kita adalah untuk meningkatkan kualitas Sepakbola Indonesia. Jika ada kesempatan bergabung dengan klub Indonesia lainnya kenapa tidak kami terima karena justru itu tujuan utama kami,” Ujar Haris

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: