No icon

Piala Presiden telah usai. Redaksi 12pas memilih Susunan Tim Terbaik

Piala Presiden Best Team versi 12pas

Arema memastikan gelar juara Piala Presiden edisi 2017 setelah sukses mengalahkan Pusamania Borneo FC (PBFC) dengan angka telak 5-1. Dan dengan itu berakhir pula turnamen yang sudah berjalan selama 36 hari tersebut.

Kali ini Tim Redaksi 12pas melakukan pemilihan untuk 11 pemain terbaik, berikut cadangannnya –ya memang, hal seperti ini sudah sangat mainstream. Parameter yang kami tetapkan nyaris sama dengan media-media lain dalam merumuskan ini, yaitu: kontribusi bagi tim, entah itu secara kuantitatif, yaitu catatan statistik, atau kualitatif, yaitu peran nyata pemain terhadap tim. Selain itu, perangai di lapangan juga menjadi landasan dasar dalam menilai performa pemain. Meski tak ada catatan scoring khusus dalam menilai pemain, namun penilaian ini dilakukan dengan pengamatan setiap tim di Redaksi.

Selain itu, pemilihan tim ini juga mengikuti regulasi Piala Presiden, yang mana harus terdapat tiga pemain U-23 di skuat. Sementara untuk pemilihan formasi mengikuti formasi yang sering digunakan oleh pelatih terbaik –yang tentu dipilih oleh Tim Redaksi.

Dan berikut adalah Best Team Piala Presiden 2017 versi 12pas:

Pelatih: Ricky Nelson

Datang tidak dengan tim utama, bukan merupakan pelatih kepala di klubnya dan sukses membawa tim yang ia asuh sampai ke babak final lewat cara yang sensasional. Ya, itu adalah deskripsi singkat soal pencapaian Ricky Nelson. Ricky dikirim ke turnamen ini jelas tidak diberi target yang muluk-muluk oleh manajemen PBFC, tapi Ricky mampu menjawabnya dengan sebuah cerita yang mungkin akan selalu dikenang oleh Pusamania.

Meski harus gagal di final, setelah dikalahkan telak Arema 1-5, namun apa yang telah ia capai sebelum partai final, sudah patut membuat kita semua angkat topi atas pencapaian Ricky Nelson dan memberikan gelar pelatih terbaik untuknya.

 

Penjaga Gawang: Kurnia Meiga

Mengapa kami memilih Kurnia Meiga? Karena dia memang terbaik! Tak lagi bantahan untuk menyebut kalau Meiga adalah penjaga gawang terbaik dalam turnamen ini. Dari catatan angka? Meiga merupakan penjaga gawang dengan jumlah kebobolan terendah di turnamen ini (kebobolan empat gol).

Meski jumlah cleansheet yang dicatatkan pemain asli Betawi ini lebih rendah dari M. Ridwan (Semen Padang) dan Wawan Hendrawan (PBFC), namun Meiga mampu bermain baik di pertandingan besar. Seperti perempat final melawan Sriwijaya dan final kemarin, di mana di awal pertandingan Meiga sukses membuat penyelamatan penting dari tembakan Reinaldo di awal pertandingan. Andaikan kalau Meiga gagal, mungkin cerita di babak final akan berbeda.

 

Bek Tengah: Yamashita Kunihoro dan Bagas Adi Nugroho

Pertandingan final kemarin menjadi sebuah bukti nyata, bahwa Yamashita Kunihiro adalah kunci utama keberhasilan PBFC mencapai babak final. Terbukti, setelah Yamashita diganti karena cedera, pertahanan Pesut Etam terlihat sangat berantakan. PBFC yang sedari awal turnamen hanya kebobolan tiga gol, tiba-tiba harus menderita jumlah kebobolan lebih banyak hanya dalam satu pertandingan.

Penampilan gemilang Yamashita yang paling berkesan, tentu saat menghadapi Persib di semifinal, di mana Yamashita mampu dengan cerdas menghentikan serangan-serangan Maung Bandung. Meski hanya dikontrak untuk turnamen Piala Presiden ini, bukan masalah sulit tampaknya bagi Yamashita untuk menemukan klub setelah ini, bahkan jika ia tak dikontrak oleh PBFC untuk Liga 1.

Satu lagi posisi bek tengah untuk menemani Yamashita adalah pemain muda Arema, Bagas Adi Nugroho. Arema adalah satu dari sedikit tim di Piala Presiden ini yang berani memainkan bek tengah muda, dan bahkan selalu dipercaya bermain penuh.

Bagas hanya absen sekali, yaitu saat leg kedua semifinal melawan Semen Padang, pada pertandingan tersebut, Arema harus menderita dua kali kebobolan –dan merupakan satu-satunya pertandingan di mana Arema dibobol lebih dari satu gol. Saat Bagas bermain, Arema hanya kebobolan tiga gol sepanjang turnamen. Tentu ini menjadi catatan positif untuk mantan bek PSS Sleman ini, terutama dalam memikat hati Luis Milla.

 

Bek Kanan: Novan Setya Sasongko

Selain Cassio, mungkin Novan adalah salah satu kunci Semen Padang tak bisa dibobol selama 476 menit di Piala Presiden. Novan yang sejatinya berposisi sebagai bek kiri, harus dipindahkan ke pos bek kanan, mengingat penampilan gemilang yang ditunjukkan oleh Boas Atururi di pos bek kiri Kabau Sirah.

Keunggulan mantan pemain Persibo Bojonegoro ini adalah Novan mampu sering menutupi posisi bek tengah, saat Semen Padang diserangbalik oleh lawan. Kemampuan tekel yang baik serta kematangannya dalam membaca permainan Novan menjadi alasan mengapa kami memilih Novan untuk mengisi pos bek kanan.

 

Bek Kiri: Jhon Ahmat Alfarizie

2014 lalu, Alfarizie masih merupakan pemain Arema yang dipinjamkan Persija, namun, 2017 ini, arek Malang ini mengemban ban kapten di lengannya. Itu adalah bukti perkembangan pesat yang ditunjukkan Alfarizie. Bahkan, jika diajukan sebuah pertanyaan, “siapakan fullback kiri terbaik di Indonesia saat ini?”, mungkin menjawab “Alfarizie” bukanlah sebuah jawaban yang akan menimbulkan perdebatan yang panjang.

Alfarizie mampu menjalankan tugasnya sebagai fullback modern. Di mana Alfarizie tak hanya bagus dalam bertahan, melainkan Alfarizie mempunyai kemampuan overlap yang baik. Alfarizie kerap mengisi sayap kiri saat Arema sedang menyerang atau saat Vizcarra sedang melakukan gerakan cut inside.

 

Gelandang Bertahan: Asri Akbar

Selain pertahanan yang solid, salah satu kunci sukses PBFC adalah keberadaan Asri Akbar. Asri memang sudah tidak muda lagi, penampilannya mungkin tidak seperti semewah saat ia berada di performa puncaknya. Tapi Asri menawarkan sesuatu yang dibutuhkan oleh PBFC II, yaitu sosok seorang pemimpin. Pengalaman yang dimiliki Asri mampu membimbing anak-anak muda yang mayoritas mengisi skuat PBFC di Piala Presiden edisi ini.

Selain itu, Asri juga merupakan kunci utama keberhasilan PBFC melangkah ke partai final. Terutama saat melawan Persib. Tiga gol yang diciptakan PBFC semua bermula dari peran Asri dalam menginisiasi set piece dan sukses menggagalkan ambisi Persib untuk mempertahankan gelar juara Piala Presiden.

 

Gelandang Tengah: Adam Alis

Most Valuable Player resmi di turnamen ini. Lalu, apa lagi yang membuat Anda bertanya soal kepantasannya masuk ke skuat ini?

Bergabung bersama Arema benar-benar membuat Adam Alis bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Aji Santoso benar-benar bisa mengeluarkan potensi terbaik mantan pemain Barito Putera ini. Adam yang sepanjang turnamen diplot sebagai playmaker Arema, mampu menjalankan peran itu dengan fasih. Sebiji golnya saat melawan Sriwijaya tentu menjadi gol penting dalam perjalanan Arema menjadi juara di turnamen ini.

 

Sayap Kanan: Febri Hariyadi

Menandai kemunculannya di turnamen Piala Jenderal Sudirman 2015/2016. Di turnamen Piala Presiden 2017 lah Febri benar-benar diberi panggung untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Febri selalu dipercaya untuk bermain penuh nyaris di setiap pertandingan yang dijalani Persib di turnamen ini.

Penampilan gemilang ditunjukkan Febri sepanjang turnamen, terutama saat babak penyisihan –mungkin Febri bisa dikatakan pemain terbaik babak penyisihan. Satu gol  dan tiga asis sukses ia catatkan sepanjang turnamen –sekaligus menjadi top asis Persib, menunjukkan bahwa Febri sudah sangat siap untuk bermain reguler di Persib atau bahkan di Timnas Indonesia.

 

Sayap Kiri: Atep

Bila Febri merupakan pemain terbaik Persib di babak penyisihan, maka Atep adalah pemain terbaik Persib di fase gugur. Meski di awal turnamen, posisi sayap kiri Persib sempat beberapa kali ditempati Shohei Matsunaga, namun saat cederanya van Dijk, Matsunaga diberi peran sebagai penyerang dan Atep dengan paten memantapkan posisi sayap kiri Maung Bandung.

Atep nyaris hampir mencetak gol di setiap pertandingan Persib selama fase gugur, hanya pertandingan tandang saat melawan PBFC lah Sang Lord gagal mencetak gol. Empat gol ia cetak, sekaligus sukses menjadi top scorer Persib membuat Atep layak mengisi posisi sayap kiri di tim ini.

 

Gelandang Serang: Esteban Vizcarra

Dibalik suksesnya Arema dan kesuksesan Cristian Gonzales sebagai peraih sepatu emas, ada sosok Esteban Vizcarra di belakang itu semua. Mantan pemain Semen Padang tersebut begitu luar biasa di turnamen ini. Meski tak mencetak satu gol pun sepanjang fase gugur, tapi asis dan umpan kunci yang kerap dilepaskannya sukses memberi jalan bagi pemain lain untuk mencetak angka.

Vizcarra sendiri sering diberi peran free role oleh Aji Santoso, kadang ia beroperasi di sisi kiri, kadang bertukar posisi di kanan bersama Natsir. Namun, mobilitasnya itulah yang membuat pemain Argentina ini sering terlibat dalam serangan Arema, termasuk sering dilanggar pastinya.

 

Penyerang: Cristian Gonzales

Hingga, pertandingan leg pertama semi final, untuk posisi penyerang Tim Redaksi sudah sepakat untuk memberikannya pada Marcel Sacramento. Namun, semua berubah dengan cepat, saat Gonzales mampu menciptakan lima gol ke gawang Semen Padang. Dan semua itu dilengkapi dengan hattrick-nya di partai final.

40 tahun, mampu mencetak 11 gol dari tujuh pertandingan. Sudah tak perlu lagi berpanjang kata untuk mendeskripsikan kualitas Cristian “El Locco” Gonzales di turnamen ini.

 

Cadangan

Pemain-pemain cadangan pada tim pilihan 12pas adalah mereka-mereka yang sebenarnya juga berkontribusi besar bagi tim mereka di Piala Presiden 2017, namun tak bisa masuk daftar sebelas terbaik karena beberapa faktor, seperti: posisi pemain tersebut sudah penuh, perangai yang menyebabkan kerugian bagi tim atau penurunan performa di laga-laga tertentu.

Untuk faktor pertama, yaitu: posisi yang ditempati sudah penuh ada: Marcel Silva Sacramento, Arthur Cunha Da Rocha, Hariono dan Hanif Sjahbandi. Keempat pemain menempati posisi yang sudah diisi oleh pemain-pemain yang juga berpengaruh besar. Marcel misalnya, jika kita berbicara soal konsistensi, maka dia merupakan pemain paling konsisten di Piala Presiden, dari tujuh pertandingan Marcel hanya absen mencetak gol di tiga laga. Sedangkan Arthur merupakan pemain belakang yang membantu Arema menjadi juara, namun ia harus kalah bersaing dengan Yamashita Kunihiro dan Bagas Adi Nugroho. Begitupun Hariono dan Hanif, yang harus kalah bersaing dengan Adam Alis dan Asri Akbar.

Sedangkan untuk faktor perangai, dua nama harus tersisih sebagai sebelas terbaik, yaitu: Vendri Mofu dan Vladimir Vujovic. Kebetulan kedua pemain ini terlibat langsung dalam perkelahian di akhir pertandingan perebutan tempat ketiga. Andai, saat itu perkelahian tak terjadi, mungkin dua orang ini akan menjadi pilihan utama. Soal kontribusi? Tak perlu diragukan, Vlado sebagai pemain belakang dan mampu mencetak tiga gol dan dua asis adalah hal yang luar biasa. Begitupun Mofu, lima gol dan banyak gol penting yang ia ciptakan sulit untuk tidak menyertakannya dalam susunan tim terbaik.

Dan faktor terakhir, yaitu, penurunan performa adalah Wawan Hendrawan. Tak kebobolan sepanjang babak penyisihan hinga perempat final, mampu menahan gempuran pemain Persib di dua pertandingan semi final, namun, harus lima kali memungut bola dalam pertandingan final, sebuah hal yang mencoreng catatan positif penjaga gawang asal Brebes ini. Meski begitu, apresiasi tetap diberikan atas penampilan Wawan sepanjang turnamen ini.

 

Dan berikut Best Team Piala Presiden versi 12pas:

Best Team Piala Presiden versi 12pas.net

Honorary Mention

Adalah penghargaan untuk pemain-pemain yang tidak masuk dalam jajaran 18 pemain pilihan Tim Redaksi, namun tetap pantas mendapat apresiasi. Mereka adalah: Cassio Fransisco, Riko Simanjuntak dan Rudi dari Semen Padang, Reinaldo Da Costa serta Dirkir Khon Glay dari PBFC, Gian Zola dari Persib dan Rizky Ripora dari Barito Putera.

 

Itu merupakan Best Team Piala Presiden versi 12pas. Dalam hal penilaian tentu ada faktor perspektif yang berbeda dan hal itu tentu bukan suatu masalah. Untuk tim terbaik versi Anda, silakan tulis di kolom komentar! 

 

 

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: