No icon

Meski bermodalkan tiga gelar Liga Eropa, tapi Emery gagal di Liga Champions

Karena Liga Champions Tak Semudah Liga Eropa, Emery!

Unai Emery datang ke Parc de Princes dengan sederet prestasi mentereng. Menguasai Liga Eropa – atau Anda enggan menyebutnya Liga Malam Jumat – tiga tahun berturut-turut di klub yang sama, Sevilla. Untuk level domestik, mari kita kesampingkan sebentar. La Liga masih dikuasai tim-tim yang ya begitulah.

Selepas kepergian Carlo Ancelotti, Paris Saint Germain memutuskan untuk memakai jasa pelatih asal Hondarribia, Spanyol, Unai Emery. Saya setengah yakin bahwa keputusan Taipan asal Qatar tidak bisa dilepaskan dari kesuksesannya membawa Sevilla menguasai Liga Eropa. Mereka jelas sangat penasaran untuk bisa berbicara lebih banyak di kancah Eropa.

Di level domestik, seteleh era Olympique Lyon usai, PSG lah yang menguasai. Dengan kucuran dana yang sanggup membiayai kompetisi di Indonesia bertahun-tahun, PSG akhirnya jengah. Mereka merasa saatnya untuk bisa menguasai Eropa. Setidaknya tidak menjadi bulan-bulanan banyak orang sebagai jago kandang.

Pelatih sekelas Don Carlo yang prestasinya di kancah Eropa tidak perlu diragukan lagi saja tidak bisa membawa PSG berbicara banyak. Prestasi tertinggi Don Carlo bersama PSG di level Eropa adalah membawa PSG lolos ke perempat final. Sebelum dikandaskan oleh, ehm, Barcelona.

Dengan modal yang mentereng, Emery dibawa. Harapan bahwa Emery memiliki kemampuan membawa Sevilla menguasai Liga Eropa yang musim terakhirnya mengalahkan Juergen Klopp dengen Liverpool-nya, Emery diboyong ke Paris.

Tetapi, sebagaimana manusia yang berencana dan Tuhan yang menentukan, semua harapan itu pupus sudah. Kembali lagi, mereka dikalahkan oleh Barcelona. Nampaknya, selaian Arsenal, PSG adalah santapan empuk Barcelona.

Awalnya, semua berjalan sempurna. Skenario yang dibuat oleh sutradara asal Spanyol tersebut mampu dituntaskan dengan penampilan gemilang duo aktor Latin, Edinson Cavani dan Angel Di Maria, serta metronom asal Italia, Marco Veratti. Unai Emery membungkan klub asal Catalan, Barcelona, dengan skor meyakinkan, 4-0.

Siapa yang menyangka salah satu klub terbaik di dunia dipaksa pulang dengan kepala tertunduk lesu dengan skor telak. Kalau lawan Liverpool mungkin masyarakat tidak segaduh sekarang. Tapi ini Barcelona.

Sejarah dirasa akan tertulis. Barcelona yang hampir selalu lolos ke babak delapan besar akan dikalahkan oleh PSG. Banyak dukungan mengalir. Mereka yang mendukung PSG mengalahkan Barcelona tentu ingin adanya perubahan. Ingin Barcelona pulang jauh sebelum malam seremoni penyerahan Piala.

Mereka yang dulunya nyinyir PSG – dan juga Manchester City – karena dianggap hanya bermodalkan uang, ujuk-ujuk datang memberikan semangat. Dasar manusia.

Dua minggu berlalu. Langit di Paris mendadakan cerah. Langit di Camp Nou mendadak suram. Bintang enggan datang. Suasana memanas.

Barcelona akan menantang PSG dan mencoba peruntungan agar bisa membalikkan keadaaan, atau kalau di bahasa jawa disebut juga dengan comeback. Tidak yang tidak mungkin memang di dunia. Apalagi di dunia sepakbola. Ketidak mungkinan di sepakbola hanya satu: Arsene Wenger dipecat.

Barcelona menggila. Trio lini depan Barcelona mengamuk. Tiga gol disarangkan dalam waktu lima puluh menit. Tersisa sebiji gol lagi agar mereka bisa menyamakan agregat gol dan memaksakan hasil imbang dan mengharapkan tuah Camp Nou di babak perpanjangan.

Harapan Barcelona seakan meredup kala (lagi-lagi) Cavani mencetak gol ke gawang Ter Stegen sekaligus membuat Barcelona wajib mencetak tiga gol lagi untuk memastikan lolos ke babak selanjutnya. Sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Kecuali jika mereka bertemu AS Roma. Tetapi ini PSG yang lini belakang digawangi salah satu bek terbaik dunia, Thiago Silva.

Petaka terjadi di dua menit sisa waktu normal. Saya tak perlu menjelaskan lebih detil bagaimana tiga gol yang diharapkan warga Catalan dan tidak diharapkan warga Paris terjadi.

Terlepas dari adanya keputusan wasit yang dirasa menguntungkan salah satu pihak, malam itu telah tercipta keajaiban. Keajaiban yang membuka mata semua orang. Termasuk Unai Emery. Malam itu akan terus dikenang oleh Emery sebagai hari pembantaian yang rasa sakitnya sesakit korban pembantaian Nazi kepada warga Yahudi. Malam itu juga membuktikan bahwa menguasai Liga Champions tidak semudah menguasai Liga Eropa.

Adios, Emery!

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: