No icon

Dalam seminggu terakhir, ada dua comeback di sepakbola nasional dan internasional. Ashiddiq Adha men

Semen Padang, PSG Dan Sakitnya Patah Hati

Menurut Anda, apakah ada yang lebih menantang dari menaiki roller coster, uji nyali di tempat menyeramkan atau menghadap ayah sang kekasih untuk pertama kalinya? Bagi saya ada yang lebih menantang dari itu, menonton tim kesayangan Anda bertanding melawan tim dengan mental juara di kandang lawan dengan kondisi tim Anda sedang unggul. Itu jauh lebih menantang, terutama soal kesehatan jantung Anda.

Anda pendukung Semen Padang? Beberapa hari lalu, saya pastikan Anda sedang berolahraga jantung, tak tega melihat tim Anda diserang sepanjang malam, dengan harapan pemain-pemain kebanggaan Anda dapat menahan gempuran tersebut.

Kembali ke pertandingan Arema vs Semen Padang, Minggu lalu (5/3).

Semua berjalan baik-baik saja, di 20 menit awal pertandingan. Tim yang Anda banggakan, seolah mampu menahan gempuran Tuan Rumah dan juga tekanan dari seisi stadion. Bahkan, tim Anda menunjukkan tanda-tanda bahwa malam itu Anda akan berpesta semalam suntuk, saat dua gol cepat Marcel Sacramento dan gol cantik Vendri Mofu membuat tim Anda semakin di atas angin. Unggul agregat 3-0 dan punya tabungan dua gol tandang. Nikmat mana lagi yang Anda dustakan?

Tapi, kegembiraan itu langsung berubah saat ada orang tua 40 tahun membobol gawang Anda dua kali dalam waktu yang relatif cepat. Kegembiraan itu langsung berubah menjadi sebuah kegamangan. Saat pertandingan bersisa satu jam, maka Anda pasti sudah akan memprediksi bahwa satu jam ke depan, detakan jantung Anda akan berdetak lebih cepat dari detakan normal. Ya, tontonan yang akan Anda saksikan hanyalah gempuran sebelah pihak dari tuan rumah, sembari berharap pemain-pemain yang Anda banggakan mampu menahan itu semua dan mampu sesekali mencuri peluang untuk membuat satu stadion bungkam. Setidaknya perasaan di atas angin masih Anda rasakan saat pertandingan hanya bersisa dua menit di waktu normal.

Oh tidak…

Lagi-lagi, orang gaek itu. Saat mata seolah tak mampu menatap televisi, di menit 88, ia hadirkan petaka bagi tim kesayangan Anda. Kini kondisi berbalik, Arema unggul atas Semen Padang, 4-3 secara keseluruhan. Kegembiraan yang terpancar satu jam yang lalu, langsung berubah menjadi perasaan kecewa. Dan mungkin, Anda akan langsung mematikan televisi Anda, lalu bergegas ke kamar, berharap untuk segera tidur, namun mata tak bisa terpejam, karena selalu teringat kejadian sepanjang pertandingan tadi. Sial!

Anda tak sendiri Semen Padang fans!

Beberapa jam lalu, di Camp Nou, sekelompok orang yang datang dari Paris juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Anda rasakan. Kondisinya hampir sama. Orang-orang Paris itu datang ke Barcelona dengan harapan yang sama seperti yang Anda harapkan di awal pertandingan.

Mereka berharap, empat gol yang sudah ditabung tim kebanggaan mereka menjadi modal untuk lolos ke babak berikutnya. Dan mereka juga pasti tahu, bahwa sepanjang pertandingan, mereka akan melihat tim kesayangan mereka digempur habis-habisan, serupa yang dialami tim kesayangan Anda, Semen Padang.

Benar saja, hingga awal babak kedua saja, tim yang mereka sayangi tertinggal 3-0. Dan tim lawan, hanya butuh sebiji gol lagi untuk menyamakan kedudukan. Namun, pria Uruguay, si penyerang tersubur di tim Paris tersebut sukses membuat kegelisahan orang-orang Paris tadi berubah menjadi kegembiraan. Tim dari Barcelona tersebut butuh tiga gol untuk memenangkan pertandingan. Ya, tiga gol dalam setengah jam!

Dua menit menjelang waktu normal berakhir, mungkin sekelompok orang-orang Paris tadi sudah menyusun rencana untuk berpesta di pub terdekat merayakan kemenangan tim kebanggaan mereka. Eh, sial! Tim dari Catalan malah mampu mencetak dua gol cepat dalam selang waktu dua menit. Kondisi di papan skor pun secara keseluruhan sekarang berimbang. Namun, sekelompok orang Paris tersebut masih bisa tersenyum di tengah ketegangan, karena jika skor tersebut berakhir, maka mereka tetap dapat berpesta di pub terdekat.

Namun, sepakbola punya cara sendiri untuk mengubah senyum seketika menjadi kesedihan. Sergio Roberto nama orang itu. Dia dengan kejam membunuh mimpi sekelompok orang Paris tadi. Serupa, apa yang dilakukan oleh bapak 40 tahun, bernama Cristian Gonzales yang juga dengan kejam membunuh mimpi jutaan masyarakat Minang.

Akhir kata. Sepakbola memang kejam yah! Tapi, sekejam-sekejamnya sepakbola tetap akan sulit untuk membencinya, kan?

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: