No icon

Dua pertandingan Semi Final Piala Presiden sesugguhnya sempat menghadirkan rivalitas hangat dalam du

Semifinal Piala Presiden Dan Rivalitas Hangat Yang Pernah Terjadi

Setelah memastikan empat tim lolos ke babak semifinal, Piala Presiden 2017 tak butuh waktu lama untuk langsung segera menggelar pertandingan semifinal. Empat hari setelah pertandingan terakhir perempatfinal, babak semifinal langsung digelar. Dua pertandingan semifinal mempertemukan Pusamania Borneo FC (PBFC) melawan Persib dan di pertandingan lainnya, Semen Padang akan berjumpa dengan Arema.

Dalam sejarah, kedua pertandingan ini merupakan pertandingan tanpa rivalitas sengit, lain halnya jika Arema bersua Persib –tentu Anda tahu rivalitas seperti apa yang sudah terbangun di antara kedua tim. Namun, meski begitu, dua pertandingan ini dalam beberapa tahun ini sempat memunculkan rivalitas hangat. Ya, rivalitas yang tanpa sengaja terbangun karena beberapa sebab.

PBFC vs Persib

Berbicara soal PBFC, tim ini sendiri merupakan tim yang baru di kancah persepakbolaan nasional. Meski keberadaan PBFC idientik dengan Persisam Samarinda. Namun, sejatinya dua tim tersebut adalah berbeda. Tapi, saya tidak akan membahas itu.

PBFC sendiri baru hadir di tahun 2014 dan pertandingan melawan Persib di Piala Presiden 2015 lalu adalah pertemuan pertama kedua tim Jadi, secara historis tidak ada rivalitas antara dua klub ini. Namun, di Piala Presiden tersebutlah rivalitas tersebut terbangun. Biangnya saat itu adalah pelatih PBFC, Iwan Setiawan.

Semua bermula kala perang urat saraf yang dilakukan Iwan jelang pertandingan PBFC melawan Persib saat itu di babak perempat final Piala Presiden. “Persib hanya mengumpulkan pemain bintang, tetapi secara strategi bermain tidak ada yang istimewa”, komentar Iwan jelang leg pertama PBFC vs Persib di Stadion Segiri, Samarinda.

Pernyataan Iwan tersebut memantik amarah sebagian Bobotoh, bahkan Bobotoh sempat membentangkan spanduk bertuliskan, “Buktikan sesumbar-mu coach Iwan. Persib sudah pernah juara, sedangkan PBFC belum.”

Dan benar saja, pertandingan leg kedua berlangsung panas. 13 kartu kuning dan tiga kartu merah keluar dari kantong wasit Djumadi Efendi, sekaligus membuktikan bahwa pertandingan tersebut berlangsung panas. Tak hanya sampai di sana, saat pertandingan berakhir, para pemain dan staf PBFC mendapat pengawalan khusus dari anggota brigade berpakaian lengkap, serta tim Pesut Etam harus menaiki barracuda untuk meninggalkan stadion.

Setelah Iwan Setiawan tak lagi melatih PBFC, api rivalitas tersebut mulai padam. Buktinya, di kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) lalu, tak ada lagi persaingan panas, sepanas perempat final Piala Presiden 2015 lalu. Dan kemungkinan hal tersebut juga bakal tersaji di babak semifinal nanti –setidaknya hingga saat ini, belum ada tanda-tanda mengarah ke sana. Ya, semoga saja rivalitas kedua tim hanya 90 menit di lapangan, tak berbuntut panjang serupa Piala Presiden edisi yang lalu.

 

Semen Padang vs Arema

Rivalitas kedua tim ini sesungguhnya tidaklah ada, kalaupun ada, mungkin itu hanya rivalitas dua tim eks-Galatama yang masih eksis di kompetisi teratas sepakbola nasional. Namun, semua berubah saat 2014, tepatnya di babak delapan besar Indonesia Super League (ISL) 2014.

Kondisi saat itu, Arema dan Semen Padang sama-sama berpeluang lolos dan pertandingan tersebut merupakan pertandingan pamungkas. Arema hanya butuh imbang, Semen Padang perlu menang. Singkat cerita, pertandingan tersebut berlangsung tidak sesuai dengan standar. Wasit Novari Ichsan Alihara terlihat begitu tertekan saat harus memimpin pertandingan yang ibaratnya seperti final itu. Banyak keputusan keliru yang diputuskan Novari. Dimulai dari pelanggaran Kurnia Meiga terhadap Osas Saha. Hingga di menit akhir, saat tekel “gunting” Victor Igbonefo terhadap Vizcarra luput dari pengamatan sang pengadil. Menurut analisa mantan wasit nasional, Jimmy Napitupulu kualitas wasit memang tidak sesuai standar, "Memang, performa wasit di laga Semen Padang versus Arema tak bagus. Performa mereka berada di bawah standar. Konsentrasi sangat buruk. Berkali-kali posisi mereka tidak bagus. Saya langsung tanya kepada mereka apa yang terjadi,"

Pertandingan berakhir 2-2 dan Arema lolos ke babak semifinal. Hasil tersebut sendiri tak bisa diterima Semen Padang dan suporter mereka di Stadion Haji Agus Salim saat itu. Ketidakpuasaan tersebut dilampiaskan dengan amukan dan kericuhan. Bahkan, para pemain Arema harus mendapat pengawalan khusus apparat saat harus keluar lapangan menuju ruang ganti, karena hujan lemparan yang tak terhindarkan saat itu.

Dua musim setelah kejadian tersebut, rivalitas tersebut juga sudah mulai padam. Hal itu bisa dilihat saat pertandingan di ISC. Saat Arema bertandang ke Padang, tak ada tekanan-tekanan intimidatif dari suporter tuan rumah terhadap tim tamu. Bahkan, Arema sukses pulang dengan tiga poin saat itu.

Di pertandingan nanti pun tentu diharapkan suasana “adem” seperti ISC lalu dapat dihadirkan oleh kedua tim –terutama pada suporter. Karena, memang statusnya Piala Presiden, hanya kompetisi pramusim. Meski begitu, juga bukan berarti operator turnamen bisa sembarangan memilih wasit. Karena salah sedikit, luka lama 2014 tentu akan hadir lagi. Ya, pertandingan ini akan sangat rawan, terutama saat dilangsungkan di Padang.

Comment

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so' - /opt/alt/php56/usr/lib64/php/modules/php_print.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: